HARIANMEMO, MISTERI -- Langkah kaki yang berderit di atas lantai kayu tua Lawang Sewu Semarang sering kali memicu detak jantung berdegup lebih cepat bagi siapa saja yang memberanikan diri melintasinya pada malam hari.
Sensasi dingin yang mendadak menusuk kulit ketika kita memasuki bangunan peninggalan era kolonial sebenarnya merupakan reaksi fisik alami tubuh terhadap perubahan suhu dan kelembapan udara yang drastis.
Baca Juga
Para peneliti neurosains menemukan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk memproyeksikan bayangan atau suara asing di kegelapan sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dari ancaman yang belum diketahui pasti.
Fenomena psikologis yang dikenal sebagai pareidolia ini membuat kita sering melihat wajah manusia atau bayangan mengerikan pada lipatan tirai yang tertiup angin halus di ruangan remang-remang.
Banyak bangunan tua di Indonesia yang dianggap berhantu ternyata menyimpan gelombang frekuensi rendah di bawah dua puluh hertz yang tidak terdengar telinga namun sanggup memicu rasa cemas berlebihan.
Getaran infrasonik tersebut bisa dihasilkan oleh hembusan angin yang melewati celah ventilasi sempit atau getaran mesin tua yang menjalar melalui fondasi beton tebal tempat bersejarah tersebut.
Masyarakat Indonesia memiliki ikatan emosional dan budaya yang sangat kuat dengan tradisi tutur lisan mengenai kisah-kisah gaib yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi tua.
Popularitas destinasi wisata horor seperti Desa Penari di Jawa Timur atau pemakaman terapung di Desa Trunyan Bali membuktikan betapa tingginya minat publik terhadap petualangan yang memacu adrenalin.