HARIANMEMO, INTERNASIONAL -- Ketika membuka gawai pada pagi hari, mata kita sering kali langsung disambut oleh rentetan kabar duka mengenai pertempuran lintas negara yang kian memanas di berbagai belahan dunia.
Pemberitaan intensif mengenai krisis geopolitik internasional tidak sekadar mengubah lanskap politik global, tetapi juga menyusup perlahan ke dalam ruang personal serta memengaruhi kesehatan mental masyarakat urban saat ini.
Baca Juga
Fenomena yang dikenal sebagai kelelahan empati ini mulai memicu rasa cemas berkepanjangan ketika seseorang merasa terus-menerus dibombardir oleh gambar-gambar penderitaan manusia dari layar ponsel pintar mereka.
Banyak warga kota besar di Indonesia kini memilih untuk mengatur ulang pola konsumsi media digital demi menjaga kedamaian pikiran tanpa harus menjadi figur yang acuh terhadap kemanusiaan.
Langkah awal yang bisa kita tempuh adalah menetapkan jadwal khusus untuk membaca warta mancanegara ketimbang membiarkan notifikasi berita masuk secara terus-menerus sepanjang hari kerja.
Membatasi durasi penelusuran kabar buruk pada malam hari terbukti membantu meningkatkan kualitas tidur karena otak tidak lagi terbebani oleh bayangan trauma sekunder akibat paparan visual konflik berdarah.
Seseorang yang menyaring informasi secara sadar biasanya memiliki kemampuan lebih baik dalam mengolah rasa empati menjadi tindakan nyata ketimbang sekadar tenggelam dalam pusaran emosi negatif tanpa arah.
Kita dapat mengalihkan energi emosional tersebut dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui lembaga kurasi terpercaya yang secara berkala menyalurkan bantuan pangan serta obat-obatan ke wilayah terdampak pertikaian.