HARIANMEMO, WISATA -- Menyusuri gang-gang sempit di kawasan Pecinan Tua Lasem selalu menyuguhkan sensasi melempar ingatan kita jauh ke masa ketika perahu-perahu kayu Tiongkok berlabuh manis di tepian Sungai Babagan.
Dinding-dinding tembok tebal berwarna putih kusam dengan gerbang kayu jati berukir megah seolah menyimpan ribuan rahasia perdagangan candu dan batik yang pernah berjaya pada abad kesembilan belas.
Baca Juga
Kota kecil di pesisir utara Jawa Tengah ini kini bertransformasi menjadi destinasi wisata sejarah yang menawarkan ketenangan mendalam bagi para pelancong yang jenuh dengan keriuhan kota besar.
Saat melangkahkan kaki melewati Kelenteng Cu An Kiong yang berdiri anggun, Anda akan disambut oleh keheningan magis yang berpadu sempurna dengan aroma dupa nan menenangkan jiwa.
Bangunan tempat ibadah tertua di Lasem tersebut memperlihatkan ukiran kayu maha karya seniman Tiongkok kuno yang menceritakan kisah klasik tentang kesetiaan, keberanian, serta pengabdian manusia kepada sang pencipta.
Keunikan kota pemukiman tua ini tidak hanya berhenti pada kemegahan arsitektur fisik rumah-rumah bergaya Indische Empire yang berderet rapi di sepanjang jalan raya.
Kehidupan masyarakat lokal yang harmonis menjadi bukti nyata bagaimana kebudayaan Tionghoa dan Jawa berakulturasi secara alami selama berabad-abad tanpa kehilangan jati diri masing-masing.
Jejak persaudaraan lintas etnis tersebut terekam sangat jelas pada lembaran kain batik tulis Lasem yang memiliki ciri khas warna merah darah ayam yang sangat melegenda.